Blogger-Info © 2014 | Facebook Twitter Google+
Powered By : Blogger

Tampilkan postingan dengan label Cerita Daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Daerah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 November 2014

Mataram Kuno



Kerajaan mataram kuno    
Kelompok ; 5
Anggota ; fikri ash shiddiqie
                  Renaldi k
                  Rizal

Smk negeri 4 kota sukabumi
                                                                     2014
Candi peninggalan mataram kuno
1.      Candi Borobudur


2  Candi Pawon, Mend Ngawen
3 candi prambanan
 Prasasti  
1Canggal

Prasasti Canggal (juga disebut Prasasti Gunung Wukir atau Prasasti Sanjaya) adalah prasasti dalam bentuk candra sengkala berangka tahun654 Saka atau 732 Masehi yang ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir di desa Kadiluwih, kecamatan Salam, Magelang, Jawa Tengah. Prasasti yang ditulis pada stela batu ini menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta. Prasasti dipandang sebagai pernyataan diri RajaSanjaya pada tahun 732 sebagai seorang penguasa universal dari Kerajaan Mataram Kuno. Prasasti ini menceritakan tentang pendirian lingga (lambang Siwa) di desa Kunjarakunja oleh Sanjaya. Diceritakan pula bahwa yang menjadi raja mula-mula adalah Sanna, kemudian digantikan oleh Sanjaya anak Sannaha, saudara perempuan Sanna.


2. Prasasti Kalasan


Prasasti Kalasan adalah prasasti peninggalan Wangsa Sanjaya dari Kerajaan Mataram Kuno yang berangka tahun 700 Saka atau 778M. Prasasti yang ditemukan di kecamatan Kalasan, Sleman, Yogyakarta, ini ditulis dalam huruf Pranagari (India Utara) dan bahasa Sanskerta. Prasasti ini menyebutkan, bahwa Guru Sang Raja berhasil membujuk Maharaja Tejahpura Panangkarana (Kariyana Panangkara) yang merupakan mustika keluarga Sailendra (Sailendra Wamsatilaka) atas permintaan keluarga Syailendra, untuk membangun bangunan suci bagi Dewi Tara dan sebuah biara bagi para pendeta, serta penghadiahan desa Kalasan untuk para sanggha (umat Buddha). Bangunan suci yang dimaksud adalah Candi Kalasan. Prasasti ini kini disimpan dengan No. D.147 di Museum Nasional, Jakarta.


3. Prasasti Kedu (Mantyasih)
Prasasti Mantyasih, juga disebut Prasasti Balitung atau Prasasti Tembaga Kedu adalah prasasti berangka tahun 907 M yang berasal dari Wangsa Sanjaya, kerajaan Mataram Kuno. Prasasti ini ditemukan di kampung Mateseh, Magelang Utara, Jawa Tengah dan memuat daftar silsilah raja-raja Mataram sebelum Raja Balitung. Prasasti ini dibuat sebagai upaya melegitimasi Balitung sebagai pewaris tahta yang sah, sehingga menyebutkan raja-raja sebelumnya yang berdaulat penuh atas wilayah kerajaan Mataram Kuno. Dalam prasasti juga disebutkan bahwa desa Mantyasih yang ditetapkan Balitung sebagai desa perdikan (daerah bebas pajak). Di kampung Meteseh saat ini masih terdapat sebuah lumpang batu, yang diyakini sebagai tempat upacara penetapan sima atau desa perdikan. Selain itu disebutkan pula tentang keberadaan Gunung Susundara dan Wukir Sumbing (sekarang Gunung Sindoro danSumbing). Kata "Mantyasih" sendiri dapat diartikan "beriman dalam cinta kasih"


4. Prasasti Kelurak
Prasasti Kelurak merupakan prasasti batu berangka tahun 782 M yang ditemukan di dekat Candi Lumbung Desa Kelurak, di sebelah utara Kompleks Percandian Prambanan, Jawa Tengah. Keadaan batu prasasti Kelurak sudah sangat aus, sehingga isi keseluruhannya kurang diketahui. Secara garis besar, isinya adalah tentang didirikannya sebuah bangunan suci untuk arca Manjusri atas perintah Raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadhananjaya. Menurut para ahli, yang dimaksud dengan bangunan tersebut adalah Candi Sewu, yang terletak di Kompleks Percandian Prambanan. Nama raja Indra tersebut juga ditemukan pada Prasasti Ligor dan Prasasti Nalanda peninggalan kerajaan Sriwijaya. Prasasti Kelurak ditulis dalam aksara Pranagari, dengan menggunakan bahasa Sanskerta. Prasasti ini kini disimpan dengan No. D.44 di Museum Nasional, Jakarta.


5. Prasasti Ratu Boko
Nama "Ratu Baka" berasal dari legenda masyarakat setempat. Ratu Baka (Bahasa Jawa, arti harafiah: "raja bangau") adalah ayah dari Loro Jonggrang, yang juga menjadi nama candi utama pada komplek Candi Prambanan. Ditemukan di wilayah Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta dan terletak pada ketinggian hampir 200 m di atas permukaan laut. berisikan tentang kekalahan Balaputeradewa dalam perang saudara dengan kakaknya (Pramodawardhani). Balaputradewa melarikan diri ke sriwijaya.


Kamis, 13 November 2014

Kerajaan Singosari

Nama :
·     Aldi Dwi Putra
·     Nani Rahmawati
·     Nurhidayatulloh
·     Rio Noviandi
·     Siti Zulva Tasya


Kelas : X MIA 2


          SMAN 5 KOTA SUKABUMI


                                               

    Singasari adalah nama dari sebuah daerah yang terletak di sebelah timur Gunung Kawi di hulu sungai Brantas. Saat ini daerah tersebut termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Malang di Propinsi Jawa Timur Indonesia. Pada abad ke-13, Singasari hanya merupakan sebuah desa kecil yang tidak berarti. Keadaan ini lambat laun berubah bertepatan dengan munculnya seorang pemuda bernama Ken Arok dari desa Pangkur, yang berhasil merebut daerah tersebut dari wilayah kekuasaan Kerajaan Kediri yang saat itu diperintah oleh Raja Kertajaya pada tahun 1222 Masehi. Sejak saat itu ia mendirikan kerajaan yang berpusat di desa Kutaraja serta mengambil nama gelar kebangsawanan sebagai Rajasa Sang Amurwabhumi. Baru kemudian pada tahun 1254 Masehi, wilayah tersebut diganti nama dengan nama Singasari oleh cucunya yang bergelar Jaya Wisnuwardhana. Singasari menjadi kota kerajaan yang menguasai wilayah Jawa bagian Timur dari tahun 1222 sampai 1292 Masehi.
Kerajaan Singasari memiliki keterkaitan dengan kerajaan Majapahit yang didirikan oleh Nararya Sanggramawijaya pada tahun 1293 Masehi. Sanggramawijaya atau yang lebih dikenal oleh masyarakat sebagai Raden Wijaya adalah cucu dari Narasingamurti dan menantu dari Raja Kertanegara. Kertanegara adalah raja Singasari terakhir yang meninggal terbunuh dalam peperangan melawan tentara pemberontak yang mengatas namakan Kerajaan Kediri di bawah pimpinan Jayakatwang. Raden Wijaya secara resmi menjadi raja Majapahit setelah berhasil mengalahkan tentara Jayakatwang yang telah merebut Singasari. Raden Wijaya melakukannya dengan bantuan tentara Tartar dari China yang awalnya datang ke Jawa untuk tujuan menaklukkan Singasari yang ternyata sudah terlebih dahulu diruntuhkan oleh Jayakatwang.
Raja-raja kerajaan singosari



1) Ken Arok.
      Ken Arok menjadi raja Singasari setelah membunuh Tumapel Tunggul Ametung dan menaklukkan Kerajaan Kediri tahun 1222 di Ganter. Ken Arok sebagai pendiri dan raja pertama di Singasari yang bergelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi, kemudian keturunannya terkenal dengan sebutan wangsa Rajasa.

2) Anusapati (anak Tunggul Ametung - Ken Dedes).
      Anusapati menjadi raja Setelah membunuh Ken Arok (ayah tirinya), dengan menyuruh seorang pengalasan (budak).

3) Tohjaya (anak Ken Arok - Ken Umang).
      Tohjaya menjadi raja setelah membunuh Anusapati. Tahun 1248 timbul pemberontakan yang dilancarkan oleh :
* Ranggawuni (anak Anusapati).
* Mahisa Campaka (anak Mahisa Wongaleleng atau cucu Ken Arok dan Ken dedes)

4) Ranggawuni.
      Bergelar Sri Jaya Wisnuwardhana 1248 - 1268.
Wisnuwardhana memerintah Singasari bersama-sama Mahisa Cempaka sebagai Ratu Anggabaya, yaitu pejabat tinggi yang bertugas menanggulangi bahaya yang mengancam kerajaan, gelarnya Narasinghamurti.

5) Kertanegara.
      Bergelar Srimaharajadhiraja Sri Kartanegara (1269 – I292), merupakan raja Singasari yang terbesar. Tahun 1275 dikirimnya ekspedisi Pamalayu. Daerah-daerah yang ditaklukkannya antara lain Bali, Pahang, Sunda, Bakulapura (Kalimantan Barat Daya) dan Gurun (Maluku) serta mengadakan hubungan persahabatan dengan Jaya Singawarman - Raja Campa. Tahun 1292 di taklukan oleh Jayakatwang dari Kediri.



Jadi, Raja yang terkenal adalah KERTANEGARA
Prasasti kerajaan Singosari :
1. Prasasti Manjusri

     Prasasti Manjusri merupakan manuskrip yang dipahatkan pada bagian belakang Arca Manjusri, bertarikh 1343, pada awalnya ditempatkan di Candi Jago dan sekarang tersimpan di Museum Nasional Jakarta

2. Prasasti Mula Malurung

     Prasasti Mula Malurung adalah piagam pengesahan penganugrahan desa Mula dan desa Malurung untuk tokoh bernama Pranaraja. Prasasti ini berupa lempengan-lempengan tembaga yang diterbitkan Kertanagara pada tahun 1255 sebagai raja muda di Kadiri, atas perintah ayahnya Wisnuwardhana raja Singhasari.

     Kumpulan lempengan Prasasti Mula Malurung ditemukan pada dua waktu yang berbeda. Sebanyak sepuluh lempeng ditemukan pada tahun 1975 di dekat kota Kediri, Jawa Timur. Sedangkan pada bulan Mei 2001, kembali ditemukan tiga lempeng di lapak penjual barang loak, tak jauh dari lokasi penemuan sebelumnya. Keseluruhan lempeng prasasti saat ini disimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.

3. Prasastri Singosari

     Prasasti Singosari, yang bertarikh tahun 1351 M, ditemukan di Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur dan sekarang disimpan di Museum Gajah dan ditulis dengan Aksara Jawa.

     Prasasti ini ditulis untuk mengenang pembangunan sebuah caitya atau candi pemakaman yang dilaksanakan oleh Mahapatih Gajah Mada. Paruh pertama prasasti ini merupakan pentarikhan tanggal yang sangat terperinci, termasuk pemaparan letak benda-benda angkasa. Paruh kedua mengemukakan maksud prasasti ini, yaitu sebagai pariwara pembangunan sebuah caitya.
4. Candi Jawi

     Candi ini terletak di pertengahan jalan raya antara Kecamatan Pandaan - Kecamatan Prigen dan Pringebukan. Candi Jawi banyak dikira sebagai tempat pemujaan atau tempat peribadatan Buddha, namun sebenarnya merupakan tempat pedharmaan atau penyimpanan abu dari raja terakhir Singhasari, Kertanegara. Sebagian dari abu tersebut juga disimpan pada Candi Singhasari. Kedua candi ini ada hubungannya dengan Candi Jago yang merupakan tempat peribadatan Raja Kertanegara.

5. Prasasti Wurare

     Prasasti Wurare adalah sebuah prasasti yang isinya memperingati penobatan arca Mahaksobhya di sebuah tempat bernama Wurare (sehingga prasastinya disebut Prasasti Wurare). Prasasti ditulis dalam bahasa Sansekerta, dan bertarikh 1211 Saka atau 21 November 1289. Arca tersebut sebagai penghormatan dan perlambang bagi Raja Kertanegara dari kerajaan Singhasari, yang dianggap oleh keturunannya telah mencapai derajat Jina (Buddha Agung). Sedangkan tulisan prasastinya ditulis melingkar pada bagian bawahnya.

Kehidupan ekonomi dan sosial kerajaan singosari
    Letak kerajaan Singosari di tepi sungai Bengawan Solo. Hal ini memberikan kesimpulan bahwa masyarakatnya aktif dalam kegiatan perekonomian pelayaran. Selain itu, dengan suburnya bumi Jawa, maka sektor pertanian pun menjadi bagian dari aspek perekonomian yang maju di Singosari beserta hasil buminya. Ekspedisi Pamalayu yang dilakukan oleh Kertanegara merupakan salah satu bukti bahwa negara berusaha meningkatkan kehidupan ekonominya dengan menguasai jalur perdagangan yang strategis.
    Beberapa Raja Singosari sangat memperhatikan kehidupan sosial rakyatnya, termasuk Ken Arok. Jadi, wajar jika para Brahamana banyak meminta perlindungan ketika bersengketa dengan Raja Kediri. Namun, pada masa Anusapati, raja itu sibuk dengan kehidupan pribadinya, sehingga kehidupan sosial masyarakatnya banyak yang terabaikan. Pada masa pemerintahan Wishnuwardana, kehidupan sosial masyarakat kembali diperhatikan


Keuntungandan Kerugian Perdagangan Bebas


Perdagangan bebas adalah sebuah konsep ekonomi yang mengacu kepada penjualan produk antar negara tanpa pajak ekspor-impor atau hambatan perdagangan lainnya. Perdagangan bebas dapat juga didefinisikan sebagai tidak adanya hambatan buatan (hambatan yang diterapkan pemerintah) dalam perdagangan antar individual-individual dan perusahaan-perusahaan yang berada di negara yang berbeda.
Bagi semua negara yang menganut perdagangan bebas, perdagangan bebas memiliki beberapa keuntungan dan kerugian bagi perekonomian nasional.
a.       Perdagangan bebas mengakibatkan kerugian pada perekonomian nasional karena beberapa hal berikut:
·    Perdagangan bebas dikatakan merugikan perekonomian adalah karena suatu negara bisa kehilangan pasar dunianya yang selanjutnya berdampak negatif terhadap volume produksi dalam negeri dan pertumbuhan PDB serta meningkatkan jumlah pengangguran dan kemiskinan.
·   Pada bidang impor, kerugiannya adalah peningkatan impor yang apabila tidak dapat dibendung karena daya saing yang rendah dari produk-produk serupa buatan dalam negeri, maka tidak mustahil pada suatu saat pasar domestik sepenuhnya akan dikuasai oleh produk-produk dari luar negeri. Dalam beberapa tahun belakangan ini, ekspansi dari produk-produk Cina ke pasar domestik Indonesia semakin besar. Ekspansi dari barang-barang Cina tersebut tidak hanya ke pertokoan-pertokoan modern tetapi juga sudah masuk ke pasar-pasar rakyat di pinggir jalan. Hal ini tentu akan sangat berpengaruh pada perekonomian nasional.
·    Selanjutnya pada bidang investasi, bebasnya arus modal antar negara sangat berpengaruh terhadap arus investasi suatu negara. Jika daya saing investasi rendah, dengan keadaan yang tidak kondusif dibandingkan di negara-negara lain, maka bukan saja arus modal ke dalam negeri akan berkurang tetapi juga modal investasi domestik akan lari dari dalam negeri yang akhirnya membuat saldo neraca modal di dalam neraca pembayaran negara bersangkutan negatif. Pada gilirannya, kurangnya investasi juga berpengaruh negatif terhadap pertubuhan produksi dalam negeri dan juga ekspor.
·        Selain itu, kerugian adanya perdagangan ekspor terhadap perekonomian disebabkan karena membanjirnya tenaga ahli dari luar negeri. Dan jika kualitas SDM domestik tidak segera ditingkatkan untuk dapat menyaingi kualitas SDM dari negara-negara lain, tidak mustahil pada suatu ketika pasar tenaga kerja di dalam negeri sepenuhnya akan dikuasai oleh orang asing. Hal ini menjadi tantangan negara untuk meningkatkan kualitas SDM dalam negeri agar mampu bersaing dalam dunia global.

b.      Selain kerugian, perdagangan bebas juga dapat memberikan keuntungan pada perekonomian nasional.
·     Menambah peluang kesempatan kerja. Alasannya karena dengan adanya perdagangan bebas, pasar barang dan jasa dari suatu negara menjadi lebih luas. Pemasaran atas hasil produksi tidak lagi hanya mengandalkan pasar dalam negeri semata yang daya serapnya terbatas, tetapi juga bisa mengandalkan pasar internasional yang pasarnya sangat luas. Dengan demikian jumlah produk barang dan jasa yang dihasilkan bisa dilipatgandakan yang akibatnya permintaan terhadap tenaga kerja pun jumlahnya meningkat.
·     Terciptanya efisiensi alokasi sumber daya dan spesialisasi. Pada akhirnya nanti dengan adanya perdagangan bebas, suatu negara hanya akan memproduksi barang dan jasa tertentu yang dianggap paling efisien jika barang dan jasa tersebut dihasilkan di negaranya dibandingkan jika dihasilkan di negara lain. Dengan demikian nantinya semua negara akan melakukan spesialisasi pada produk tertentu saja, akibatnya akan terjadi efisiensi dalam penggunaan sumber daya.
·    Mendorong percepatan kemajuan di bidang IPTEK. Perdagangan pada dasarnya adalah persaingan harga dan kualitas, sehingga agar suatu negara eksis dalam perdagangan bebasnya maka barang dan jasa yang ditawarkan harus unggul dalam kualitas dan murah dalam harga, hal ini hanya bisa diraih dengan terus mengembangkan IPTEK.

·        Perdagangan bebas dapat meningkatkan pendapatan suatu negara, karena jika dalam pasar domestik terjadi kelebihan barang, maka dapat dijual pada negara yang membutuhkannya. Semakin tinggi daya jual, maka semakin besar pula pendapatan yang diterima suatu negara, sehingga dapat memakmurkan rakyatnya.




Selasa, 21 Oktober 2014

Cerita Rakyat Sangkuriang dan Gunung Tangkuban Perahu
 
Asal muasal gunung Tangkuban perahu dan Sangkuriang adalah 
cerita rakyat dari nenek moyang, yang turun temurun hingga sekarang 
dan menjadi cerita rakyat yang cukup menarik. Cerita rakyat Sangkuriang 
dan gunung Tangkuban perahu berawal dari seorang raja bernama Sungging Perbangkara 
yang tengah pergi berburu ke di hutan. Ketika tengah berburu,
 Raja Sungging Perbangkara merasa ingin buang air kecil. 
Sang rajapun pergi kesemak-semak dan buang air kecil, 
dimana air seninya tertampung di selembar daun keladi. Alkisah, 
saat itu ada seekor babi betina yang tengah bertapa karena ingin menjadi manusia, 
ia bernama Wayung. Tanpa sengaja air seni raja Sungging Perbangkara diminum 
oleh Wayung yang pada akhirnya menyebabkan babi betina itu hamil karenanya. 
Hingga suatu ketika tiba saatnya Wayung melahirkan. Lahir seorang anak wanita 
yang cantik yang kelak bernama Dayang Sumbi atau Rarasati.

Cerita Rakyat Sangkuriang berawal dari Dayang Sumbi yang kian beranjak dewasa,
 kecantikan Dayang Sumbi semakin terlihat dan mulai menjadi rebutan di antara 
para raja kala itu. Karena Dayang Sumbi selalu menjadi rebutan,
 ia menjadi terganggu dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke hutan bersama 
seekor anjing peliharaannya yang bernama Tumang. Suatu ketika,
 diceritakan Dayang Sumbi tengah menjahit dan tanpa sengaja gulungan benang
 yang ia gunakan tiba-tiba terjatuh. Dayang Sumbi pun merasa malas mengambilnya,
 dan entah kenapa ia berucap bagi siapa yang dapat mengambilkan gulungan benang,
 jika ia laki-laki, maka ia akan dijadikan suaminya. Ternyata si Tumang, 
anjing peliharaannyalah yang akhirnya mengambilkan gulungan benang itu 
yang akhirnya menjadi suami Dayang Sumbi.
 Dayang Sumbi menepati janjinya dan bersuamikan seekor anjing. 
Kemudian lahirlah Sangkuriang, anak Dayang Sumbi dan Tumang. 
Hari berganti hari Sangkuriang mulai tumbuh jadi anak lelaki yang pemberani.
 Setiap hari ia berburu binatang di hutan dan Sangkuriang selalu mengajak Tumang, 
anjing yang juga bapaknya itu. Ketika itu, Sangkuriang ingin berburu babi,
 dan kebetulan yang diburu adalah babi betina Wayung, yang tak lain ibunda 
Dayang Sumbi. Tumang pun menolak untuk mengejar babi itu,
 sehingga Sangkuriang menjadi marah.
 
 Dalam kemarahannya Sangkuriang langsung membunuh Tumang,
 anjing yang juga ayahnya sendiri. Hati si Tumang ia ambil
 dan ia serahkan pada ibunya untuk dimasak. 
 Dalam hati, Dayang Sumbi merasa aneh karena seharian tidak melihat 
Tumang yang tidak kunjung pulang. Ia bertanya kepada Sangkuriang dimana si Tumang,
 dan betapa kagetnya Dayang Sumbi ketika mendengar jawaban Sangkuriang,
 bahwa ia telah membunuh Tumang. Dayang Sumbi menjadi sangat marah dan
 dalam kemarahannya kepala Sangkuriang dipukul menggunakan centong nasi, 
hingga meninggalkan bekas luka di kepala Sangkuriang. Sangkuriang merasa 
kecewa dengan perlakuan ibunya hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi 
meninggalkan rumah. Sangkuriang bersikukuh untuk pergi jauh dan tidak
 akan pernah kembali.
 Waktu terus berjalan, hingga Sangkuriang kini tumbuh menjadi lelaki yang gagah 
dan tampan. Dalam kesendiriannya, 
Dayang Sumbi sangat mengharapkan Sangkuriang akan pulang kembali.
 Iapun mulai bertapa dan memohon kepada Dewa, 
ia ingin tetap cantik dan selalu muda hingga nanti. 
 
Suatu ketika saat Sangkuriang kembali ia masih mengenali Dayang Sumbi sebagai
 ibunya. Dewapun mengabulkan do'a Dayang Sumbi, 
walaupun usianya sudah tidak muda lagi, Dayang Sumbi masih terlihat cantik. 
 
Hingga suatu ketika, Sangkuriang bertemu dengan Dayang Sumbi,
 namun ia sudah tidak mengenali Dayang Sumbi sebagai ibunya, bahkan jatuh hati 
kepada Dayang Sumbi. Begitupun Dayang Sumbi, ia tak tahu bahwa 
lelaki tampan itu adalah Sangkuriang, mereka menjalin kasih. 
 
Ceritapun berlanjut, suatu hari Dayang Sumbi tengah membelai kepala Sangkuriang,
 dari situlah ia menemukan bekas luka karena pukulan yang dilakukan
 pada Sangkuriang beberapa tahun yang lalu. Akhirnya Dayang Sumbi pun
 tahu bahwa ia adalah Sangkuriang anak kandungnya. 
 
 Sangkuriang telah melamar Dayang Sumbi, hingga Dayang Sumbi bingung mencari
 cara agar pernikahan dengan Sangkuriang tak akan terjadi. Akhirnya, 
Dayang Sumbi mengajukan beberapa persyaratan yakni Sangkuriang harus mampu
 membuat danau dan perahu serta membendung sungai Citarum dalam waktu satu malam.
 
 Sangkuriang menyanggupi persyaratan ini,
 karena ia telah berguru dan menjadi remaja yang sakti mandraguna. Alhasil, 
Sangkuriang ternyata mampu memenuhi persyaratan yang diberikan Dayang Sumbi
 kepadanya. Saat semua pekerjaan hampir selesai,
 Dayang Sumbi bingung dan meminta petunjuk Dewa.
 
 Sang Dewa-pun memerintahkan agar Dayang Sumbi mengibaskan selendang yang
 dimilikinya dan secara ghaib matahari muncul di ufuk timur
 tanda pagi telah datang. Sangkuriang marah dan ia merasa gagal. 
 
Ia menendang perahu yang setengah jadi dengan sekuat tenaga dan terguling 
dalam keadaan tertelungkup hingga akhirnya muncul sebutan Tangkuban Parahu.
 
Facebook

DAFTAR ISI
Total Kunjungan